close

Cerpen Patah Hati: Dari Luka Hati ke Cinta Abadi, Siapa Sangka?!

Cerpen Patah Hati: Dari Luka Hati ke Cinta Abadi, Siapa Sangka?!

Pada suatu siang di kafe favoritku, rasa pahit di mulut tak hanya berasal dari secangkir kopi hitam yang baru saja kuhirup. Terduduk di sudut kafe itu, aku yang biasanya cekatan menulis puisi di bukuku, kali ini hanya bisa menatap kosong ke arah luar jendela.

“Yak, gak bisa gini terus, Dika!” ucapku semangat, mencoba menggugah semangat yang sudah lama menghilang.

“Kamu mau ngapain, Rika?” tanya Tia, sahabatku yang juga sedang duduk di sebelahku.

“Ah, gak ada apa-apa, Ti. Aku cuma bingung kenapa perasaan ini masih gak ilang-ilang aja,” keluhku. “Udah berapa lama sih sejak Andra pergi, tapi aku masih aja kayak gini.”

Tia menghela nafas dan menepuk pundakku. “Sabar ya, Rika. Semuanya butuh waktu, dan pasti akan baik-baik saja kok,” ucapnya dengan nada penuh harap.

Aku tersenyum tipis. Kata-kata Tia itu sempat membuatku merasa lebih baik, meski hanya sebentar. Aku kembali menengok ke arah jendela, dan memandangi langit yang mulai berawan.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria berambut gelap yang mencolok. Dia duduk di meja sebelahku, seolah tak peduli dengan keramaian di kafe itu. Wajahnya familiar, tapi aku tak yakin dia siapa.

“Hey, kamu Rika kan?” tanya pria itu, mencoba memecah keheningan.

“Uh, iya. Kamu siapa?” tanyaku ragu.

Aku melihat dia tersenyum tipis. “Aku Dito. Dulu kita pernah kenal pas SMA,” ucapnya.

Flashback kenangan lama itu langsung melintas di benakku. Ya, dia adalah Dito, teman lamaku yang dulu sempat dekat denganku.

“Oh, ya! Dito! Maaf ya, aku lupa. Udah lama banget kita gak ketemu,” kataku ramah.

Baca Juga:  Pengertian Fakta Dalam Teks Persuasi: Mengungkap Pentingnya Keabsahan Argumentasi

Dito tertawa kecil. “Iya, emang udah lama banget. Kayaknya sejak lulus SMA kita gak pernah ketemu lagi, ya?” ucapnya sembari menyesap kopinya.

Mulailah kami berdua mengobrol, membahas tentang masa lalu dan apa yang terjadi dalam hidup kami sejak itu. Ternyata, Dito baru saja patah hati juga, dan dia datang ke kafe ini untuk mencari ketenangan. Entah kenapa, mendengar cerita patah hati Dito membuatku merasa sedikit lebih baik.

“Aku gak nyangka, kita bakal ketemu lagi gara-gara patah hati,” kataku sambil tertawa.

Dito mengangguk. “Iya, memang hidup penuh kejutan. Tapi, aku percaya semua ini pasti ada hikmahnya,” ucapnya dengan yakin.

Sore itu kami berdua melanjutkan obrolan hingga matahari mulai tenggelam. Dalam percakapan yang nyaman itu, kami saling berbagi cerita tentang rasa sakit yang kami alami. Entah kenapa, hatiku mulai terasa ringan seiring berjalannya waktu.

Tiba-tiba, Tia yang sudah lama duduk di sebelahku berbicara, “Rika, mungkin ketemu Dito ini memang takdir, ya. Mungkin kalian berdua bisa saling memberi dukungan buat move on.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Ti. Aku juga merasa gitu. Aku jadi bisa lihat bahwa ternyata banyak orang yang punya cerita patah hati. Aku gak sendirian.”

Dito mengangguk setuju. “Bener, Rika. Aku juga seneng bisa ketemu kamu lagi, dan bisa ngobrol kayak gini. Rasanya gak kerasa udah sore, ya.”

Kami bertiga tertawa kecil, menikmati perasaan lega yang mulai menyelimuti hati. Lalu Dito mengusulkan, “Yuk, kita sering-sering ketemu lagi buat ngobrol atau sekadar nongkrong. Siapa tau kita bisa saling membantu dan akhirnya bisa lepas dari rasa patah hati ini.”

Aku dan Tia mengangguk setuju. Ternyata, pertemuan tak terduga dengan Dito hari itu membawa kebahagiaan tersendiri. Aku mulai menyadari bahwa patah hati bukanlah akhir dari segalanya, dan masih banyak cerita yang bisa aku jalani. Toh, hidup ini penuh dengan kejutan, dan mungkin saja, suatu hari nanti, aku akan menemukan kebahagiaan yang lebih dari sekadar cerita patah hati.

Baca Juga:  Pengertian Dan Pentingnya Teks Lamaran Kerja Dalam Proses Rekrutmen

Sejak hari itu, kami sering menghabiskan waktu bersama, saling mendukung dan menguatkan. Dan perlahan, rasa sakit yang dulu menghantui hati mulai sirna, digantikan oleh semangat baru untuk menjalani hari-hari yang akan datang. Patah hati memang menyakitkan, tapi terkadang, di tengah rasa sakit itu, kita menemukan pertemanan yang justru bisa menyembuhkan luka.

Pertemuan Selanjutnya

Suatu hari, di kafe yang sama, aku, Dito, dan Tia kembali berkumpul, menikmati sore yang indah. Kami bertiga sudah tak lagi membahas patah hati, melainkan bercerita tentang kebahagiaan dan rencana masa depan yang cerah.

“Tau gak sih, guys? Aku baru aja dapet kerjaan baru! Aku seneng banget!” cerita Tia dengan wajah sumringah.

“Wow, selamat ya, Ti! Kerja di mana nih?” tanyaku penasaran.

“Dapet kerja di kantor impian aku, Rika! Aku jadi desainer grafis di sana,” sahut Tia girang.

Aku dan Dito langsung mengucapkan selamat. Ternyata, pertemanan yang terjalin di tengah patah hati ini berhasil membawa kami ke kebahagiaan yang lebih besar.

“Guys, aku juga mau ngasih tau nih. Aku sama Rika udah resmi jadian!” kata Dito sambil menunjukkan ke arahku.

Tia tersenyum lebar dan memeluk kami berdua. “Aku seneng banget buat kalian! Semoga langgeng, ya,” ucap Tia.

Aku dan Dito tersenyum bahagia. Siapa sangka, dari pertemuan yang dimulai dengan patah hati, kami bisa menemukan cinta yang tulus. Patah hati yang dulu kami alami ternyata bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kebahagiaan yang tak pernah kami duga.

Di tengah kebahagiaan kami, langit sore itu pun semakin indah. Dengan senja yang berwarna jingga, menandakan bahwa patah hati kami telah berakhir, dan kini saatnya menikmati kebahagiaan yang lama ditunggu. Kami bertiga mengecup cangkir kopi masing-masing, bersulang untuk kebahagiaan yang baru saja dimulai.

Baca Juga:  Pengertian Dan Pentingnya Orientasi Dalam Teks Anekdot

Selesai.

Baca Juga: